sinawung talineng roso…

Hukum Rokok

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Perokok akan menjadi bulan bulanan, dicibir dan dianggap sebagai suatu tabiat yang jelek, bahkan tidak heran sebagian orang akan sinis melihat perokok ketimbang melihat penipu dan pezinah, padahal rokok sendiri belum tentu akan membentuk suatu kepribadian yang jelek serta membuahkan perbuatan tercela. Di satu sisi rokok itu mempunyai manfaat dan di sisi lain mempunyai mudharat terhadap diri si perokok dan orang lain dengan mencemarkan lingkungan, sementara kendaraan dan pabrik pabrik yang sangat mencemarkan malah dikembang biakan sebagai lambang kejayaan dan kekayaan. Oleh karena itu, janganlah terlalu mencela sesuatu yang belum tentu tercela, tapi lihatlah sesuatu yang dianggap tercela dan bimbinglah ia dengan Hikmah serta Mau’idzah agar tidak menjadi tercela.

Tulisan ini bukanlah pembelaan terhadap perokok, namun sebagai bahan dan masukan agar orang yang mencela rokok tidak terlalu sinis dan keras dalam mendidik anak anaknya agar terjauh dari rokok, hal ini karena berdasarkan pengalaman sendiri dan sebagian besar para perokok diakibatkan sinis serta kerasnya para orang tua dan guru dalam melarang anak dan murid, baik dengan teguran yang kasar bahkan pukulan yang sangat berlebihan yang membuat jiwa si anak dan murid menjadi munafik dan tingkahnya semakin menjadi jadi, di depan nunduk dibelakang nusuk. Padahal jika diarahkan dengan baik, insyaallah akan menjadi lebih sadar, paham dan semakin membaik. karena pada dasarnya perokok mulai menghisap rokok hanyalah ikut-ikutan kawan yang mungkin takut dikatain bencong dan sebagainya yang membuat mereka mulai mencoba, dan hal itu sangatlah mudah untuk dibenahi.

Tapi mungkin karena orang tua dan guru terlalu keras dalam melihat hukum merokok dan akibatnya yang mengakibatkan tindakannya yang keras serta kasar dalam melarang sehingga anak dan murid semakin keras kepala, padahal rokok hanyalah salah satu dari penyebab penyakit jantung bahkan kematian. Untuk itu, ada baiknya saya tulis sedikit mengenai rokok dan hukumnya menurut pandangan islam.

  1. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dan agar pembahasan dalam makalah ini tidak terlalu melebar maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah hukum rokok menurut Islam ?
  2. Apa alasan-alasan yang digunakan untuk menetapkan hukum tersebut ?
  3. Bagaimanakah sikap para ulama Indonesia tentang adanya fatwa “Rokok Haram” ?
  1. C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui bagaimana sebenarnya hukum Islam tentang rokok yang mana pada saat ini sedang menjadi perbincangan yang hangat di negara ini.
  2. Untuk mengetahui alasan-alasan yang digunakan para ulama untuk menetapkan hukum rokok tersebut.
  3. Untuk memberikan pengetahuan tentang hukum rokok pada masyarakat umumnya dan penulis khususnya agar dalam kehidupan bermasyarakat tidak terjadi fanatisme antara kelompok pro-rokok dengan kelompok anti-rokok yang berujung pada suatu tindakan anarkis yang akan merisaukan masyarakat.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Sejarah Rokok

Pada tahun 1492, Colombus menemukan tembakau di pulau Bahamas yang mana penduduknya tidak memperhatikan benda tersebut, malah mereka membuangnya, Colombus pun pada awalnya menyangka benda tersebut tidak berfaedah, namun setelah difikirnya kembali, ternyata benda tersebut mempunyai nilai yang tinggi, namun ia bukanlah orang yang menemukan bagaimana menggunakan tembakau tersebut. Pada tahun yang sama Rodrigo De Jares membuka pabrik dan perusahaan tembakau (rokok) di Kuba, kemudian pada tahun 1556-1558 mulai diperkenalkan ke Perancis , Spanyol dan Portugal. Dan selanjutnya, tersebarlah ke seluruh dunia.

Menurut ilmu kedokteran, rokok mengandung lebih kurang 4000 bahan kimia, diantaranya nikotina, tar, karbon monoksida dan hidrogen sianida. Nokotina ialah sejenis tumbuhan organik yang dijumpai secara alami di dalam batang dan daun tembakau yang mengandung nikotina paling tinggi, atau sebanyak 5% dari berat tembakau ialah nikotina. Nikotina merupakan racun saraf manjur (potent nerve poison) dan digunakan sebagai racun serangga.

Pada suhu rendah, bahan ini bertindak sebagai perangsang dan adalah salah satu sebab utama mengapa merokok digemari dan dijadikan sebagai tabiat. Selain tembakau. nikotina juga ditemui di dalam tumbuhan famili Solanaceae termasuk tomat, terung ungu (eggplant), kentang dan lada hijau. Nikotina dapat meransang dan meningkatkan aktivitas, kewaspadaan/refleksi, kecerdasan serta daya ingat. Namun di sisi lain, nikotina adalah racun yang dapat menangkal dan menghilangkan pengaruh berbagai macam obat, misalanya : Antibiotik yang digunakan sebagi obat penangkal terhadap kuman, kadang antibiotik tersebut gagal memberi kesan yang diharapkan, disebabkan oleh nikotina. Kuinin digunakan sebagai obat malaria, namun dengan banyaknya nikotin di dalam tubuh akan mempercepat penyingkiran obat kuinin tersebut dari tubuh. Teofilin sebagai obat pereda sesak nafas, yang menurut hasil penelitian, pada sebagian besar perokok akan lebih cepat menyingkirkan teofilin dibanding pasien yang tidak merokok. Benzodiazepina adalah sejenis obat tidur yang berdosis sangat tinggi, namun pengaruh obat ini akan berkurang jika si peminum obat tersebut adalah perokok.

  1. B. Hukum Rokok dalam Pandangan Islam.

Tembakau (tabacco) atau rokok mulai nampak dan digunakan oleh sebagian penduduk dunia pada abad ke sepuluh Hijriah yang membuat dan memaksa ulama ulama pada masa itu untuk berbicara dan menjelaskan hukumnya menurut Syar’i, hasilnya terdapat berbagai macam pendapat, sebagain ulama mengharamkannya, sebagian memakruhkan, sebagian membolehkan.

  1. 1. Pendapat yang mengharamkannya

Mereka berpendapat bahwa rokok hukumnya adalah Haram menurut Syar’i, pendapat ini dinisbahkan kepada Syaikhul islam Ahmad As Sanhuri Al Bahuti Al Hanbali Al Mashri, Syaikhul Al Malikiyah Ibrahim Allagani, Abul Ghaits Al Qasyasy Al Malikiy, Najmuddin bin Badruddin bin Mufassir Al quran Assyafi’i, Ibrahim bin Jam’an dan muridnya Abu Bakr bin Ahdal Al Yamani, Abdul Malik Al ‘Ishami, Muhammad bin Alamah, Assayyid Umar Al Bashri, Muhammad Al Khawaja dan Assayyid Sa’ad Al Balkhi Al Madani.

Alasan dan dalil dalil mereka tentang pengharamannya kembali ke tiga pokok permasalahan yang diakibatkan oleh rokok tersebut, yaitu :

  1. a. Memabukkan

Yang dimaksudkan oleh mereka dengan memabukkan yaitu benar benar menutupi akal dan menghilangkannya meskipun tanpa adanya keinginan yang kuat untuk bersenang senang dengan kata lain, memabukkan perokok dengan menyempitkan akal serta nafasnya, dan menurut mereka, tidak ada keraguan hal tersebut akan terjadi pada orang orang yang pertama mencicipinya. Olehnya itu hukumnya adalah haram dan menurut mereka, seorang yang perokok tidak boleh dijadikan imam.

  1. b. Melemahkan dan Narcolepsy

Kalupun rokok itu tidak memabukkan, namun ia melemahkan si perokok dan membuatnya malas dalam bekerja, juga Narcolepsy yaitu penyakit yang ditandai dengan rasa ngantuk yang sangat kuat dan tak terkendali sebagaimana halnya orang dibius. Sebagaimana hadis riwayat Ahmad dan Abu Daud dari Ummu Salmah bahwa Rasulullah SAW melarang semua yang memabukkan dan melemahkan

  1. c. Berbahaya dan berdampak negatif

–         Dampak terhadap tubuh dimana rokok tersebut akan melemahkan dan merubah warna wajah menjadi pucat serta menimbulkan berbagai macam penyakit dan mungkin akan menimbulkan penyakit TBC.

–         Dampak terhadap keuangan dimana seorang perokok akan menghambur hamburkan uangnya dan hartanya terhadap sesuatu yang tidak bermanfaat bagi tubuh dan diri dan tidak juga bermanfaat di dunia dan di akherat, padahal islam telah melarang untuk menghambur hamburkan harta kepada sesuatu yang tidak bermanfaat sebagaimana firman Allah SWT surat Al-Israa’ : 27,

¨bÎ) tûï͑Éj‹t6ßJø9$# (#þqçR%x. tbºuq÷zÎ) ÈûüÏÜ»u‹¤±9$# ( tb%x.ur ß`»sÜø‹¤±9$# ¾ÏmÎn/tÏ9 #Y‘qàÿx. ÇËÐÈ

“Janganlah menghambur hamburkan harta kepada apa apa yang tidak bermanfaat karena orang yang mubazzir adalah saudaranya setan sedangkan setan itu kufur kepada Tuhannya”.

  1. 2. Pendapat yang memakruhkannya

Pendapat ini mengatakan bahwa rokok menurut hukum syar’i adalah makruh, dan pendapat ini dinisbahkan kepada Syaikh Abu Sahal Muhammad bin Al Wa’idz Al hanafi dan pengikutnya. Adapun alasan dan dalil mereka tentang pemakruhannya sebagai berikut :

  1. Perokok itu tidak akan terlepas dari bahaya yang ditimbulkan oleh rokok itu sendiri apalagi kalau berlebihan, sedikit saja berbahaya apalagi kalau banyak.
  2. Kekurangan dalam harta, artinya, meskipun si perokok tidak menghambur hamburkan dan tidak boros serta berlebihan namun hartanya telah berkurang dengan menggunakannya kepada hal hal yang kurang bermanfaat. Alangkah baiknya jika uang yang dibelanjakkan untuk rokok digunakan kepada hal hal yang bermanfaat baik buat diri sendiri dan orang lain.
  3. Baunya yang kurang enak dan sedap yang dapat menggangu orang di sampingnya, dan hukum memakan atau mengkonsumsinya adalah makruh, sama halanya dengan memakan bawang merah dan bawang putih.
  4. Rokok akan menyibukkan si perokok dengan menghisapnya yang dapat membuatnya lalai dalam beribadah maupun mengurangi kesempurnaan ibadahnya.
  5. Rokok akan membuat si perokok itu lemah di saat tidak mendapatkannya dan fikirannya akan terganggu oleh bisikan-bisikan yang akan membuatnya salah dalam bertindak. Asyeikh Abu Sahal Muhammad bin Al Wa’idz Al hanafi kemudian berkata : Dalil dalil tentang pemakruhannya adalah dalil Qath’i sedangkan dalil tentang pengharamannya masih Dzanni, semua yang berbau tidak sedap adalah makruh sebagaimana halnya bawang dan rokok termasuk di dalamnya, kemudian beliau melarang orang orang yang merokok untuk berjamaah di mesjid.
  6. 3. Pendapat yang membolehkannya

Pendapat ini mengatakan bahwa hukum rokok menurut syar’i adalah mubah (boleh), pendapat ini dinisbahkan kepada Al ‘Alamah Asyeikh Abdul Ghani Annablisi dan Syeikh Mustafa Assuyuti Arrahbani. Adapaun dalil dan alasan mereka tentang bolehnya rokok yaitu Al Ashlu Minal Asyai Al Mubah, “asal dari segala sesuatu itu adalah mubah (boleh)” sebelum ada dalil Syar’i yang sharih yang mengharamkannya.

Mereka mengatakan bahwa orang orang yang menuding rokok itu memabukkan dan melemahkan adalah tidak benar, karena mabuk adalah hilangnya akal yang dibarengi oleh gerakan tubuh sedangkan narcolepsy adalah hilangnya akal tidak sadarkan diri, dan kedua hal tersebut tidak terdapat dan terjadi pada si perokok, sehingga tidak dibenarkan untuk mengharamannya. Adapun masalah pemborosan dan menghambur hamburkan uang bukan hanya dalam hal rokok dan masih banyak hal lain yang lebih besar dimana dihambur hamburkannya uang.

Kemudian Syeikh Mustafa Assuyuti Arrahbani dalam Syarah “Ghayatul Muntaha” dalam fiqh Hanbali : Semua orang yang meneliti masalah ini haruslah bersumber dari Ushuluddin dan cabang cabangnya tanpa harus mengikuti hawa nafsu, sekarang orang orang bertanya tentang hukumnya rokok yang semakin populer dan telah diketahui oleh semua orang, kemudian beliau membantah dalil orang orang yang mengharamkannya disebabkan oleh mudharat terhadap akal dan badan dengan membolehkannya, karena asal dari segala sesuatu yang belum jelas dharar dan juga nashnya adalah mubah (boleh) kecuali bila ada dalil nash yang sharih tentang pengharamannya.

  1. C. Kontroversi Rokok tentang Fatwa “Rokok Haram” di Indonesia

Rokok kembali jadi kontroversi belakangan ini, karena belum lama ini kalangan ulama muhammadiyah mengeluarkan fatwa haram rokok. Namun munculnya fatwa haram rokok itu  tak seheboh kasus century walaupun sempat diwarnai demo beberapa saat lalu di jakarta oleh kalangan petani tembakau, menolak fatwa haram tersebut. Jika kita lihat selama ini kalangan ulama memang gencar mengharamkan rokok, sebelum Muhammadiyah MUI pun juga sempat mengeluarkan fatwa yang serupa, karena kesadaran akan bahaya rokok, bahkan pemerintah pun juga tak ketinggalan merespon hal tersebut dengan membuat ruang khusus merokok namun masih sebatas di instansi publik.

Memang ada segi positif dan negatif terkait hal ini, segi positifnya masyarakat yang tidak merokok atau yang tergolong perokok pasif paling tidak selamat dari bahaya rokok, karena ada yang mengatakan perokok pasif mendapatkan dampak negatif yang lebih banyak dari pada perokok aktif.

Segi negatifnya jika fatwa ini benar-benar diterapkan di Indonesia, dengan aturan perundang-undangan dari pemerintah, maka akan berimbas dengan membludaknya angka pengangguran karena otomatis para petani tembakau akan kehilangan pekerjaan mereka, dan nampaknya kalangan ulama belum melihat hal yang satu ini.

Pemerintah pun nampaknya juga berfikir ulang seribu kali untuk benar-benar melarang peredaran rokok di Indonesia, karena ada yang mengatakan rokok menyumbang devisa yang cukup besar untuk negara ini. Rokok dilarang namun cukainya yang mencapai sekitar 22, 3 triliun untuk tahun ini malah diperhitungkan atau barangkali diharapkan mencapai 26 triliun bagi yang berkepentingan di tahun mendatang. Ia dilarang dan mengganggu kesehatan, namun di sisi lain pemerintah pun sepertinya masih mengharapkan dana cukai yang cukup besar dan instan dari hasil cukai rokok ini.

Komisi VII DPR mengharapkan agar cukai rokok dapat dimanfaatkan untuk mendanai kampanye Indonesia sehat. Jadi, diharapkan 50% dari cukai rokok itu dialokasikan untuk kesehatan. Dengan demikian kompensasi yang proposional atas biaya kesehatan yang dibebankannya dapat dilakukan secara berkeadilan dan hal ini dapat dibicarakan lebih lanjut.

Dari hasil kesimpulan Raker Kesra komisi VII DPR dengan Menkes dr. Achmad Sujudi, MHA. Menurut Sujudi, biaya kesehatan dan cukai rokok itu suatu alternatif yang dipikirkan. Karena rokok sesuatu yang buruk, karena itu seharusnya cukai diberikan pada kesehatan, walau tidak semua. Menurutnya ini baru wacana. Namun ia berharap nanti bisa menjadi peraturan yang tetap. Karena jatahnya hanya 5%, namun diharapkan nanti bisa menjadi 50% dana cukai rokok yang dialihkan untuk kesehatan.

Menaggapi fatwa “Rokok Haram” ini terdapat banyak pendapat yang tidak setuju dengan fatwa tersebut karena hal ini akan lebih banyak menimbulkan dampak negatif bagi bangsa ini. Menanggapi hal ini MUI NTB minta agar masalah fatwa haram merokok dipertimbangkan kembali dan ditinjau ulang sebab menyangkut sosial ekonomi masyarakat di Lombok yang merupakan penghasil terbesar tembakau Virginia di Indonesia. Tidak hanya petani pemilik lahan tetapi juga 140 ribu buruh tani penanam tembakau sehingga memiliki kontribusi mengurangi pengangguran.

Menurut Gus Dur, fatwa haram merokok akan menciptakan banyak pengangguran. Gus Dur menjelaskan, larangan haram yang digunakan sebagai dasar MUI untuk mengeluarkan fatwa dianggap tidak sesuai. “Karena MUI tidak melihat secara luas. Merokok itu tidak haram, melainkan sunah !!” ujarnya.

Sebelumnya, pendapat senada diungkapkan Ketua PBNU KH Said Aqil Siroj. Menurutnya, hukum haram merokok justru akan lebih banyak dampak buruknya. Ia menjelaskan, tidak ada satupun ulama di dunia, termasuk ulama Syiah, yang memfatwakan rokok dengan hukum haram. Hanya para ulama Wahabi yang memberikan hukum terhadap hal itu.

Dampak buruk lainnya jika rokok diharamkan adalah dari sisi ekonomi. Fatwa tersebut jelas akan membunuh para buruh pabrik rokok, juga para petani tembakau, yang kebanyakan mereka juga kalangan nahdliyin (warga NU). Kang Said menduga, MUI tampak tak memperhatikan sisi tersebut yaitu dampak yang begitu besar itu kayaknya tidak dipikirkan oleh MUI.

Komunitas pondok pesantren tidak pula ketinggalan menanggapi fatwa haram merokok. Kalangan ponpes besar di Jawa Timur menolak MUI yang mengeluarkan fatwa mengenai larangan merokok. KH. Sholahuddin Wahid mengatakan “Saya yakin akan lebih banyak menimbulkan mudarat (dampak negatif) daripada manfaatnya kalau masalah merokok itu disikapi MUI dengan mengeluarkan fatwa”. Dampak negatif tersebut menurut dia di antaranya adalah terganggunya kebutuhan ekonomi masyarakat, bisa dibayangkan, berapa ratus ribu orang akan kehilangan pekerjaan. Belum lagi pada lapisan masyarakat lainnya, seperti pedagang rokok dan petani tembakau yang akan kena dampaknya.

Oleh sebab itu, dia menyarankan MUI agar dalam menyikapi masalah rokok yang sudah meracuni anak-anak dan remaja itu melalui pesan yang bijak. “Akan sangat bagus, kalau disampaikan dalam bentuk imbauan melalui media massa. MUI bisa bekerja sama dengan praktisi periklanan, bagaimana pesan tersebut bisa efektif diterima masyarakat”.

Senada dengan pendapat di atas, KH Miftachul Akhyar mengatakan bahwa tidak ada satupun dalil Al-Quran maupun Hadits yang mengharamkan rokok bahkan dari empat madzab yang ada juga tidak ada yang menyatakan haramnya merokok. Beliau menambahkan sesuatu yang tidak diatur dalam AlQuran, Haditz maupun belum ada ijma maupun kiasnya (pendapat ulama) maka barang itu memiliki hukum Aslu fil asyak yang artinya barang yang belum ada hukumnya berarti mubah. Jadi siapapun itu berhak untuk merokok atau tidak merokok.

Menurut KH Miftachul Akhyar dalil ushul fiqh yang berbunyi aslu fil asyak sendiri setidaknya mengandung konsekuensi bisa makruh, halal maupun haram. Ada yang ketagihan rokok, kalau tidak merokok dia malah tidak konsentrasi dan tidak bisa kerja. Untuk orang ini berarti merokok malah diharuskan. Hanya saja, bagi orang yang sakit-sakitan dan dikhawatirkan malah memperparah penyakitnya, maka merokok jadi haram.

Selain pendapat ulama di atas masih banyak pendapat-pendapat lain yang senada dengan mereka.


BAB III

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas penulis mengambil kesimpulan sesuai dengan rumusan masalah di atas sebagai berikut :

  1. Hukum rokok menurut Islam memang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits sehingga para ulama terdapat perbedaan pendapat dalam memberi hukum pada rokok tersebut sebagain ulama mengharamkannya, sebagian memakruhkan, sebagian membolehkan.
  2. Adapun alasan-alasan yang dipakai dalam menentukan hukum rokok tersebut adalah sebagai berikut :
    1. Pendapat yang mengharamkan
  • Memabukkan

Yang dimaksudkan oleh mereka dengan memabukkan yaitu benar benar menutupi akal dan menghilangkannya meskipun tanpa adanya keinginan yang kuat untuk bersenang senang dengan kata lain, memabukkan perokok dengan menyempitkan akal serta nafasnya.

  • Melemahkan dan Narcolepsy

rokok itu melemahkan si perokok dan membuatnya malas dalam bekerja, juga Narcolepsy yaitu penyakit yang ditandai dengan rasa ngantuk yang sangat kuat dan tak terkendali sebagaimana halnya orang dibius.

  • Berbahaya dan berdampak negatif

–     Dampak terhadap tubuh dimana rokok tersebut akan melemahkan dan merubah warna wajah menjadi pucat serta menimbulkan berbagai macam penyakit dan mungkin akan menimbulkan penyakit TBC.

–     Dampak terhadap keuangan dimana seorang perokok akan menghambur hamburkan uangnya dan hartanya terhadap sesuatu yang tidak bermanfaat bagi tubuh dan diri dan tidak juga bermanfaat di dunia dan di akherat.

  1. Pendapat yang memakruhkan
  • Perokok itu tidak akan terlepas dari bahaya yang ditimbulkan oleh rokok itu sendiri apalagi kalau berlebihan.
  • Kekurangan dalam harta, artinya, meskipun si perokok tidak menghambur hamburkan dan tidak boros serta berlebihan namun hartanya telah berkurang dengan menggunakannya kepada hal hal yang kurang bermanfaat.
  • Baunya yang kurang enak dan sedap yang dapat menggangu orang di sampingnya, dan hukum memakan atau mengkonsumsinya adalah makruh, sama halanya dengan memakan bawang merah dan bawang putih.
  • Rokok akan menyibukkan si perokok dengan menghisapnya yang dapat membuatnya lalai dalam beribadah maupun mengurangi kesempurnaan ibadahnya.
  • Rokok akan membuat si perokok itu lemah di saat tidak mendapatkannya dan fikirannya akan terganggu oleh bisikan-bisikan yang akan membuatnya salah dalam bertindak.

b.  Pendapat yang membolehkan

Menurut Al ‘Alamah Asyeikh Abdul Ghani Annablisi dan Syeikh Mustafa Assuyuti Arrahbani memberikan alasan mereka tentang bolehnya rokok yaitu Al Ashlu Minal Asyai Al Mubah, asal dari segala sesuatu itu adalah Mubah (boleh) sebelum ada dalil Syar’i yang sharih yang mengharamkannya.

Mereka mengatakan bahwa orang orang yang menuding rokok itu memabukkan dan melemahkan adalah tidak benar, karena mabuk adalah hilangnya akal yang dibarengi oleh gerakan tubuh sedangkan narcolepsy adalah hilangnya akal tidak sadarkan diri, dan kedua hal tersebut tidak terdapat dan terjadi pada si perokok, sehingga tidak dibenarkan untuk mengharamannya. Adapun masalah pemborosan dan menghambur hamburkan uang bukan hanya dalam hal rokok dan masih banyak hal lain yang lebih besar dimana dihambur hamburkannya uang.

  1. Tanggapan para ulama Indonesia tentang fatwa “Haram Rokok” yang telah dikeluarkan oleh sejumlah ormas islam adalah tidak setuju dengan adanya fatwa tersebut, mereka beralasan bahwa dengan adanya fatwa tersebut maka akan berdampak negatif pada sisi ekonomi, yang mana akan menutup sekian banyak perusahaan rokok dan mengakibatkan banyak pengangguran akibat ditutupnya perusahaan rokok tersebut. Di samping itu juga akan “membunuh” para petani tembakau dan juga puluhan ribu buruh petani tembakau dan juga akan mengakibatkan mengurangi sumber devisa negara.
  1. B. Saran

Rokok itu ibarat buah simalakama. Kalau pabriknya ditutup, ribuan para pekerja yang menggantungkan hidup di sana akan mengalami pengangguran masal. Namun, kerugiannya dalam masalah kesehatan tak diragukan lagi. Sementara, Depkes dalam kampanye kesehatannya juga meminta dana dari cukai rokok.

Berkaitan dengan bahayanya rokok pada kesehatan, maka sangatlah penting bagi perokok untuk bisa berhenti mengkonsumsinya lebih-lebih bagi seseorang yang belum pernah sekalipun “mencicipi” rokok, karna akan mengakibatkan sebagian orang menjadi “kecanduan” terhadapnya.

Di samping itu penulis hanya bisa memberikan saran terhadap ormas-ormas yang dalam memberikan fatwa “Haram Rokok” tidak hanya melihat dari sisi kesehatan saja tapi juga memperhatikan sisi-sisi lain yang mengakibatkan dampak yang lebih besar dari keharaman merokok.

DAFTAR PUSTAKA

1. luvilove.wordpress.com

2. www.lintasberita.com

3. www.nu.or.id

4. www.tempointeraktif.com

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji syukur selalu kami panjatkan kepada Allah SWT karena atas segala berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Rokok Dalam Pandangan Islam” sebagai salah satu tugas Mata Kuliah MASAILUL FIQHIYAH pada Fakultas Agama Islam Semester VI Universitas Islam Darul Ulum Lamongan.

Sholawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW, yang telah membimbing umatnya dalam menjalani syariat agama Islam.

Penulis memahami dan menyadari setiap manusia tidaklah sempurna di dunia ini, demikian pula pada penulisan makalah ini tentu masih sangat jauh dari sempurna. Untuk itu penulis berharap akan saran dan kritik yang membangun sehingga dapat digunakan oleh penulis untuk memperbaikinya.

Harapan penulis semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca umumnya dan penulis sendiri khususnya dan dapat memberikan sedikit pengetahuan tentang persoalan Fiqih khususnya yang berkaitan dengan masalah rokok yang menjadi perdebatan pada semua kalangan.

Penulis,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: