sinawung talineng roso…

Hadits mencari Ilmu

MENUNTUT ILMU

v     Pendahuluan

Al-Hadits (As-Sunnah) adalah sumber yang kedua bagi hukum-hukum Islam. Al-Hadits (As-Sunnah) memberikan perhatiannya yang penuh untuk mensyarahkan kandungan Al-Qur’an, mencabangkan hukum-hukum juz’I dari hukum-hukum kulli yang tercantum dalam Al-Qur’an.

Al-Imam Ahmad mengatakan bahwa mencari hukum dalam Al-Qur’an haruslah melalui hadits. Mencari agama demikian pula. Jalan yang telah dibentang untuk mempelajari fiqih Islam dan syari’atnya ialah Al-Hadits (As-Sunnah). Mereka yang mencukupi dengan Al-Qur’an saja, tidak memerlukan pertolongan Al-Hadits dalam memahamkan ayat, dalam mengetahui syari’atnya, sesatlah perjalanannya dan tidak akan sampai kepada tujuan yang dikehendaki.

Kedudukan Al-Hadits yang begitu penting dalam Islam ini sempat terkontaminasi oleh adanya hadits-hadits palsu (hadits maudlu’) yang mana hadits-hadits itu muncul akibat ulah dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang mana dimaksudkan untuk membela kepentingan-kepentingan pribadi atau golongan sendiri.

Kehawatiran terhadap adanya hadits-hadits palsu tersebut itulah maka para ulama-ulama hadits terdahulu melalukan pentashihan dan penyaringan hadits atau memisahkan yang shahih dari yang dla’if dengan mempergunakan syarat-syarat pentashihan, baik mengenai keadaan perawi dari berbagai segi seperti keadilan, tempat kediaman, masa dan lain-lain.

Dalam makalah ini penulis bermaksud melakukan penelitian tentang hadits di bawah ini :

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ شِنْظِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ  مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ (رواه ابن ماجه)

اطلب العلم من المهد الى اللحد

Pembahasan pokok dari permasalahan di atas adalah status hadits ditinjau dari segi sanad dan kandungannya.

v     Hadits Pertama

  1. A. Skema Sanad

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ شِنْظِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ  مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ (رواه ابن ماجه)

Setelah dilakukan tajhrijul hadits, maka perlu penulis uraikan tentang skema hadits tersebut sehingga tampak jelas sanadnya, perowi-perowinya dan sighot tahammul hadits yang digunakan.

Adapun skema dari sanad hadits tersebut adalah sebagai berikut :

ابن ماجه
  1. B. Kritik Sanad dan Biografi Perowi
    1. 1. Anas ibn Malik

Anas ibn Malik ialah Abu Tsumamah (Abu Hamzah) Anas bin Malik ibn Nadler ibn Dlamdlam Al Najjary Al Anshary, seorang sahabat yang tetap selalu meladeni Rasulullah selama 10 tahun.

Anas ibn Malik dilahirkan di Madinah pada tahun 10 s.H = 612 M, setelah rasul tiba di Madinah, ibunya menyerahkan Anas kepada rasul untuk menjadi khadam rasul. Setelah rasul wafat, Anas pindah ke Bashrah sampai akhir hayatnya. Beliau meriwayatkan hadits sejumlah 2276 atau 2236 hadits. Sejumlah 166 hadits disepakati oleh Bukhori Muslim, 93 diantaranya diriwayatkan oleh Bukhori sendiri dan 70 diriwayatkan oleh Muslim sendiri.

Selain dari Rasulullah, Anas juga banyak meriwayatkan hadits dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Abdullah ibn Rahawah, Fatimah Az Zahra, Tsabit ibn Qais, Abdurrahman ibn Auf, Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, Malik ibn Shasha’ah, Mu’adz bin Jabal, Ubadah ibn Shamit dari ibunya sendiri ummu Sulaim dan saudara-saudara ibunya Ummu Hiram dan ummu Fadlel.

Sedangkan hadits-haditsnya diriwayatkan oleh anak-anaknya, yaitu Musa An Nadlir dan Abu Bakr. Dan juga pada kalangan tabi’in yang meriwayatkan haditsnya ialah Al Hasanu ‘I Bishry, Sulaim at Tamimy, Abu Qilabah, Abdul Aziz ibn Suhaib, Ishaq ibn Abi Thalhah, Abu Bakr ibn Abdurrahman, Abdullah Al Muzany, Qatadah, Tsabit Al Bana’iy, Humaid At Thawil, Al Ja’ad Abul Utsman, Muhammad ibn Sirrin, Anas ibn Sirrin, Az Zuhry, Yahya ibn Sa’id Al-Anshary, Sa’id ibn Jubair.

Beliau adalah salah satu di antara sahabat rasul yang paling banyak meriwayatkan hadits. Sehingga Qatadah mengatakan bahwa di hari beliau wafat, Muwarrid berkata “Pada hari ini telah lenyap seperdua ilmu”.

Dari riwayat beliau, maka penulis menyimpulkan bahwa Anas ibn Malik adalah orang yang tsiqoh dan dapat dipercaya.

  1. 2. Muhammad ibn Sirin

Muhammad ibn Sirin adalah Abu Bakar Muhammad ibn Sirin Al-Anshary, seorang tabi’I terkemuka dalam ilmu agama di Bashrah, beliau terkenal dalam bidang fiqih, wara’ hadits dan ta’bir.

Beliau menerima hadits dari maulanya sendiri Anas ibn Malik, Zaid ibn Tsabit, al Hasan ibn Ali ibn Abu Thalib, jundub ibn Abdullah Al-Bajaly, Hudzaifah ibn Al-Yaman, Samurah ibn Jundub, Imran ibn Husain, Abu Hurairah, Abu darda’ dan dari segolongan sahabat dan tabi’in.

Sedangkan hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Asy-Sya’by, Khalid Al Hadzdza, Daud ibn Abi Hind, Jarir ibn Hazim, Asy’ats ibn Abdil Malik, Ashim al Ahwal, Qatadah, Sulaiman at Tamimy, Malik ibn Dinar, Al-Auza’y, Amar ibn Mahram, dan lain-lain.

Ibn ‘Aun mengatakan bahwa Ibn Sirin meriwayatkan hadits persis menurut lafalnya. Muwarriq pun berkata “tak pernah saya melihat orang yang lebih pandai dalam ilmu fiqih selain Muhammad ibn Sirin yang dilandasi oleh wara’.” Ahmad ibn Hanbal, Yahya ibn Mu’in, Al-‘Ajly mereka mengatakan bahwa beliau adalah tsiqoh.

  1. 3. Katsir ibn Syandhir

Katsir ibn Syandhir adalah seorang yang belum pernah bertemu dengan sahabat, beliau mendapat panggilan Abu Qurroh dari Basrah.  Di antara guru beliau adalah Hasan ibn Abi Hasan Yasr, Atho’ ibn Abi Robh Aslam dan Muhammad bin Sirin. Adapun murid beliau adalah Hafs ibn Sulaiman, Ahmad ibn Zaid, Sa’id ibn Urwabah, Soleh ibn Rustam, Abdulwarits ibn Sa’id ibn Dzakun.

Adapun pendapat ulama-ulama mengenai dirinya adalah sebagai berikut : Ahmad ibn Hanbal dan Yahya ibn Mu’in mengatakan Sholeh, Muhammad ibn Sa’id mengatakan tsiqoh, sedangkan Abu Zar’ah mengatakan lemah.

  1. 4. Hafs ibn Sulaiman

Hafs ibn Sulaiman adalah pertengahan dari tabi’in, beliau dipanggil Abu Amr bermukim di Kufah. Di antara guru beliau adalah Samak ibn Harb, Katsir ibn Zadn dan Katsir ibn Syandhir. Dan murid beliau adalah Ismail ibn Ibrohim, Ali ibn Hajar ibn Iyas, Umar ibn Utsman, Muhammad ibn Bakar ibn Ar-Riyan, Muhammad ibn Harb.

Pendapat ulama mengenai dirinya adalah Waqi’ ibn Jirah mengatakan tsiqoh, Ahmad ibn Hanbal berpendapat Haditsnya ditinggal, Yahya ibn Mu’in mengatakan tidak tsiqoh dan sedikit bohong, Ali ibn Madiny mengatakan haditsnya dhoif sedangkan Bukhori meninggalkannya.

  1. 5. Hisyam ibn Umar

Nama lengkapnya Hisyam ibn Umar ibn Nasir ibn Maisaroh ibn Aban, seorang senior dari golongan tabi’ut tabi’in, beliau dipanggil dengan sebutan Abu Walid bermukin di Syam. guru-guru beliau adalah Ibrohim ibn A’yun, Ismail ibn Iyas ibn Salim, Anas ibn ‘Iyadh ibn Dhomroh, Albukhtari ibn Ubaid ibn Salman, Al-Jarah ibn Malih, Hatim ibn Ismail ibn Ubai, Hasan ibn Yahya, Hafs ibn Sulaiman.

Murid-murid beliau adalah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrohim. Sedangkan pendapat ulama mengenai dirinya adalah antara lain Yahya ibn Mu’in dan Ibn  Hibban mengatakan tsiqoh, An-Nasai berpendapat bahwa haditsnya tidak masalah, Daru Quthni mengatakan sangat dapat dipercaya sedang Maslamah ibn Qosim berpendapat boleh mempercayai haditsnya.

  1. 6. Ibn Majah

Ibn Majah ialah Abu Abdillah Muhammad ibn Yazid ibn Majah ar Robi’y al Qozwiny, seorang hafidz terkenal pengarang kitab As Sunan. Beliau meriwayatkan hadits dari ulama-ulama Iraq, Bashrah, Kufah, Baghdad, Makkah, Syiria, Mesir dan Ar Ray. Beliau melawat ke kota-kota itu untuk mengumpulkan hadits.

Diantara guru beliau adalah sahabat-sahabat Malik dan sahabat-sahabat Al-Laits. Haditsnya diriwayatkan oleh segolongan ulama, diantaranya Abu Hasa Al Qaththan. Sunannya merupakan salah satu dari sunan yang empat dan salah satu dari induk kitab yang enam. ulama yang mula-mula memasukkan Sunan Ibn Majah ke dalam golongan kitab-kitab pokok ialan Ibn Thahir dalam Al-Athraf kemudian Al-Hafidh Abdul Ghani.

Menurut Ibn Katsir, Sunan ibn Majah adalah sebuah kitab yang banyak faedahnya dan baik susunan bab-babnya dalam bidang fiqih.

  1. C. Hukum Al Hadits

Berdasarkan penelitian mengenai sanad hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Majah tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar perowinya adalah orang-orang yang tsiqoh dan dapat dipercaya, meskipun ada sebagian yang termasuk dalam golongan perowi yang lemah dan juga periwayatan haditsnya tidak diakui.

Terlepas dari kecacatan atau kelebihan perowi dalam meriwayatkan hadits tersebut, hadits ini dapat termasuk dalam hadits ghorib yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang dari seorang perowi, oleh karena itu hadits ini termasuk hadits Ahad namun hadits ini adalah termasuk hadits yang marfu’.

  1. D. Fiqhul Hadits

Isi kandungan dari hadits tersebut yang dapat penulis fahami adalah sebagai berikut :

  1. Mencari ilmu itu difardlukan bagi orang Islam
  2. Orang yang meletakkan ilmu pada orang yang bukan ahlinya ibarat mengalungi babi dengan intan, berlian dan emas.
  1. E. Tabel perowi Hadits
No Nama Wafat Kritukus Bobot
1 Anas ibn Malik 91 H Golongan sahabat Kedudukannya tinggi, tsiqoh, Adil.
2 Muhammad ibn Sirrin 110 H Ahmad ibn Hanbal,

Yahya ibn Mu’in, Al-‘Ajly

Tsiqoh
3 Katsir ibn Syandhir Ahmad ibn Hanbal

Yahya ibn Mu’in

Muhammad ibn Sa’id

Abu Zar’ah.

Sholeh

Tsiqoh

Lemah

4 Hafs ibn Sulaiman 180 H Waqi’ ibn Jirah

Ahmad ibn Hanbal

Yahya ibn Mu’in

Ali ibn Madiny

Bukhori

Tsiqoh

Haditsnya ditinggal

tidak tsiqoh dan sedikit bohong,

haditsnya dhoif

meninggalkannya

5 Hisyam ibn Umar 245 H Yahya ibn Mu’in dan Ibn  Hibban

An-Nasai

Daru Quthni

Maslamah ibn Qosim

Tsiqoh

haditsnya tidak masalah,

sangat dapat dipercaya

boleh mempercayai haditsnya.

6 Ibn Majah 273 H Jami’ul Ulama Hadits Tsiqoh
  1. F. Pesan Umum Hadits

Adapun pesan umum dari hadits tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Mencari ilmu itu difardlukan bagi orang Islam
  2. Meletakkan ilmu adalah pada orang yang ahli ilmu.
  3. Orang yang meletakkan ilmu pada orang yang bukan ahlinya ibarat mengalungi babi dengan intan, berlian dan emas.
  4. G. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat penulis simpulkan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Hadits tentang mencari ilmu yang diriwayatkan oleh Ibn Majah adalah termasuk hadits marfu’ akan tetapi tergolong dalam hadits ghorib
  2. Hadits tersebut mempunyai kandungan sebagai berikut :
  • Mencari ilmu itu difardlukan bagi orang Islam
  • Meletakkan ilmu adalah pada orang yang ahli ilmu.
  • Orang yang meletakkan ilmu pada orang yang bukan ahlinya ibarat mengalungi babi dengan intan, berlian dan emas

v     Hadits Kedua

اطلب العلم من المهد الى اللحد

Berkaitan dengan hadits ini, penulis belum menemukan tentang siapa perowi hadits tersebut karna dalam kutubut tis’ah (Shoheh Bukhori, Shoheh Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Nasai, Sunan Turmudzi, Sunan Ibn Majah, Musnad Imam Ahmad, Musnad Imam Malik dan Musnan Ad-Daromy) tidak terdapat seorangpun yang meriwayatkan hadits tersebut.

Oleh karena itu penulis tidak bisa melakukan penelitian tentang kritik sanad pada hadits tersebut. Penulis akui bahwa hadits tersebut di atas adalah sangat popular di kalangan kita, sebagai motivasi bagi kita dalam menuntut ilmu walaupun status dari hadits tersebut menurut penulis belum jelas asal muasalnya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: